Kamis, 26 Maret 2015

dialo Kyai Nur dengan malaikat dan Wali

facebook

beberapa hari yang lalu, khodam malaikatnya Mbah mutamaqin datang,
"Assalamulaikum wr wb kyai."
" waalaikum salam wr wb, siapa ini kalau boleh saya tau?"
" saya khodam malaikatnya mbah mutamaqin,"
" maaf ada perlu apa?"
"saya di perintah mbah mutamaqin untuk menemui kyai, beliau minta maaf karena sibuk tidak bisa menyambut kyai, beliau mengucapkan selamat datang di pati, "
" ya tdk papa, terimakasih atas sambutannya."
" beliau mengucapkan terimakasih karena kedatangan kyai ini, para dukun ilmu hitam, pati, kudus, purwodadi, juana, semua bersih...."
"itu kehendak Allah.."
" sudah itu saja yg bisa saya sampaikan kyai, karena banyak yang ingin bicara dengan kyai, saya mohon diri, "
" silahkan"
" wassalamualaikum wr wb,"
" waalaikum salam wr wb.

lalu datang lagi yang lain.
" Assalamu alaikum wr wb."
" waalaikum salam wr wb maaf siapa ini, ?
" saya kyai, masak lupa, saya saridin."
"oo saridin, ya ndak lupa lah, bagaimana kabarnya?"
" alhamdulillah sehat, saya mau minta doa ke kyai, agar tugas saya lancar."
" memangnya di tugaskan di mana ?"
" saya di tugaskan di bumi ke tuju kyai."
" wah jauh juga, di sana itu bagaimana kehidupannya?"
" di sana kehidupannya seperti di bumi ini pada jaman kekaisaran kyai, apa apa masih kekuatan yang di unggulkan, yg kuat yang menang, dsn orang orang masih berpakaian pakaian jubah."
" ooo begitu rupanya, lalu di tugaskan di sana itu bagainana?, kenapaa kesini ini bisa?"
" kyai juga punya ilmunya tapi belum boleh di pakai."
NGANTUK...........

Label: ,

Selasa, 27 Januari 2015

wali Alloh manusia pilihan

seseorang itu tdk bisa mencalonkan diri menjadi punya kedudukan di sisi Allah itu apa, sebagaimana nyalon pencalonan kepala desa atau nyalon sebagai bupati, gubernur , presiden, Allah mau mengangkat siapa saja yang di kehendakiNya, dan kedudukan kewalian, orang di beri kekuasaan wilayah oleh Allah itu juga hak mutlak Allah, yang penting manusia itu beribadah secara istiqomah, sebagai wujud pengabdian kepada Allah, dan Allah itu tdk butuh pengabdian siapa saja, Allah maha berdiri sendiri, tdk butuh penopang, jika Allah menciptakan semua mahluq semua maksiat Allah tidak rugi, dan jika semua beribadah Allah juga tdk di untungkan, semua amal ibadah pahalanya ibadah, dan kerugian dosa maksiat semua kembali kepada yang menjalankan.

kekuasaan Allah itu kekal abadi selama-lamanya tak berkurang karena orang maksiat, dan tdk bertambah karena orang beribadah,

Label:

Rabu, 21 Januari 2015

Kyai Nur dan malaikat di masa kanak kanak

“Diantara mereka ber – tajassud kepadaku di bumi, yang lainnya ber – tajassud di udara. Diantara mereka ber – tajassud di manapun aku berada, yang lainya ber – tajassud di langit. Mereka mengajarku dan akupun mengajarinya. Namun keberadaanku tidak sama. Aku tetap di dalam entitasku. Mereka tidak tetap dalam entitasnya. Mereka menjelmakan diri dalam berbagai bentuk. Seperti air yang masuk di dalam cangkir yang berwarna”. (Ibnu Arabi, Futuhat al-Makiyah, Juz 1 h 735).

untuk orang awam yang bukan orang di pilih oleh Allah Untuk berguru kepada para penghuni alam-alam tersebut, pe­ngenalan mendalam mengenai alam-alam itu perlu dilakukan. Selain mengenal berbagai alam, manusia sepatutnya nya mengenal dirinya sendiri dulu secara mendalam. Setelah mengenal alam-alam spiritual dan rahasia besar yang ada di dalam diri manusia, langkah berikutnya berupa mendekatkan diri kepada Allah.
Diperlukan mursyid* untuk membimbing kita dan seorang yang mulai memasuki pencarian spiritual menempuh jalan khusus, itulah yang disebut murid atau salik. (*Mursyid adalah guru spiritual yang mewakili Nabi Muhammad SAW, yang beliau itulah (Nabi SAW) yang mampu mengarahkan setiap manusia yang melakukan perjalanan spiritual sehingga tetap dalam jalan yang lurus yang diridloi Allah SWT).
Kemudian, para murid itu akan menjalani berbaga ritual (riyadhah) secara konsisteni sampai mereka menembus berbagai lapis alam dan menyingkap beragam hijab rahasia. Murid yang berhasil menembus batas dan menyingkap tabir disebut mukasyafah, yakni prestasi spiritual (*suatu maqom/tingkat awal) yang berhasil dicapai orang-orang yang terpilih oleh Allah.

sepengalamanku sendiri, sejak kecil saya itu sebelum lahir sudah ada malaikat yang menjagaku saat saya masih dalam kandungan, kok tau kan belum lahir ? ya taunya sekarang, malaikatnya saya panggil yang jaga waktu saya masih dalam kandungan, ada 9 malaikat yang di berikan rosululloh saw menjaga dan mengajariku, yang menjaga ada 17 yang mengajari ada 9, setelah saya mulai lahir, mereka mengajariku bergantian, saat aku kecil mereka yang 9 sering mengajakku ke alam langit, terbang mengenal alam langit, ya kalau di bumi, jasadku dalam keadaan mata terbeliak, tidak sadar sehingga mengkawatirkan orang tuaku, dan berusaha menyembuhkanku dengan memanggil banyak kyai, tapi semuanya sia-sia, aku tetap dengan mata terbeliak tak sadar, tapi bernafas biasa, sementara ruhku berjalan di alam langit,

mulai menginjak kelas dasar, gantian jika malaikat yang mengajariku pergi, maka gantian para auliya mengajariku bergantian, ada mbah dalhar watu congol, ada mbah mangli magelang, ada mbah hamid pasuruhan, sementara waktu kecil itu ya saya tidak tau nama nama mereka dan tak kenal mereka, cuma saat itu saya tidak boleh menceritakan pengalaman yang ku alami pada siapa saja, ketika remaja, nabi khaidir as datang mengajariku, sehingga saya bisa membaca kitab kuning tanpa belajar, sama saat itu saya tidak tau soal nabi khaidir itu siapa, dia hanya mengatakan kalau namanya khaidir, lalu meningkat banyak sekali orang silih berganti mengajariku, saya sudah tak sempat berfikir lagi siapa saja mereka, sampai sekarang.

Label: , ,

Minggu, 04 Januari 2015

ilmu makrifat ilmu para nabi dan wali

Tidak semua orang yang memiliki ilmu berada di dalam kedudukan kewalian, dan memperoleh nur muhammad. Mereka yang sampai ke situ adalah yang lebih dekat kepada Rasulullah s.a.w dari anak-anak dan keluarga mereka sendiri dan mereka adalah umpama anak-anak kerohanian Rasulullah s.a.w yang hubungannya lebih erat daripada hubungan darah. Mereka adalah pewaris sebenar-benarnya kepada Nabi s.a.w. Anak yang sejati memiliki zat dan rahasia bapanya pada rupa lahirnya dan juga pada batinnya. Nabi s.a.w menjelaskan rahasia ini, “Ilmu khusus adalah umpama khazanah rahasia yang hanya mereka yang mengenali Zat Allah boleh mendapatkannya. Namun bila rahasia itu dibukakan orang yang mempunyai kesedaran dan ikhlas tidak menafikannya”.

Ilmu tersebut dimasukkan kepada Nabi s.a.w pada malam baginda s.a.w mikraj kepada Tuhannya. Rahsia itu tersembunyi di dalam diri baginda di sebalik tiga ribu tabir hijab. Baginda s.a.w tidak membuka rahasianya melainkan kepada sebagian pengikut baginda yang sangat dekat dengan baginda. Melalui penyebaran dan keberkatan rahasia inilah Islam akan terus memerintah sehingga ke hari kiamat.

Pengetahuan batin tentang yang tersembunyi membawa seseorang kepada rahasia tersebut. Sains, kesenian dan skill ketrampilan keduniaan adalah umpama kerangka kepada pengetahuan batin. Mereka yang memiliki pengetahuan kerangka itu bolehlah mengharapkan satu hari nanti mereka diberi kesempatan untuk memiliki apa yang di dalam kerangka. Sebahagian daripada mereka yang berilmu memiliki apa yang patut dimiliki oleh seorang manusia secara umumnya sementara sebagian yang lain menjadi ahli dan memelihara ilmu tersebut daripada hilang. Ada golongan yang menyeru kepada Allah dengan nasihat yang baik. Sebagian mereka mengikuti sunnah Nabi s.a.w dan dipimpin oleh Saidina Ali r.a. yang menjadi pintu kepada gedung ilmu yang melaluinya masuklah mereka yang menerima undangan dari Allah. “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” . (Surah Nahl, ayat 125).

Maksud dan perkataan mereka adalah sama. Perbedaan pada lahirnya hanyalah pada perkara-perkara terperinci dan cara pelaksanaannya.

Sebenarnya ada tiga makna yang kelihatan sebagai tiga jenis ilmu yang berbeda – dilakukan secara berbeda, tetapi menjurus kepada yang satu Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w. Ilmu dibagikan kepada tiga yang tidak ada seorang manusia boleh menanggung keseluruhan beban ilmu itu juga tidak berupaya mengamalkan dengan sekalian semuanya.

Bagian pertama ayat di atas “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana (hikmah)” , Sesuai dengan makrifat, zat dan permulaan kepada segala sesuatu, pemiliknya mestilah sebagaimana Nabi s.a.w beramal Sesuai dengannya. Ia hanya dikurniakan kepada lelaki sejati yang berani, tentara kerohanian yang akan mempertahankan kedudukannya dan menyelamatkan ilmu tersebut. Nabi s.a.w bersabda, “Kekuatan semangat lelaki sejati mampu menggoncang gunung” . Gunung di sini menunjukkan keberatan hati setengah manusia. Doa lelaki sejati yang menjadi tentera kerohanian dimakbulkan. Bila mereka menciptakan sesuatu ia berlaku terjadi, bila mereka maukan sesuatu hilang maka ia pun hilang. “Dia kurniakan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Barangsiapa dikurniakan hikmah maka sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak”. (Surah Baqarah, ayat 269).

Jenis kedua ialah ilmu lahiriyah yang disebut Quran sebagai “seruan yang baik”. Ia menjadi kulit kepada hikmah kebijaksanaan rohani. Mereka yang memilikinya menyeru kepada kebaikan, mengajar manusia berbuat baik dan meninggalkan larangan-Nya. Nabi s.a.w memuji mereka. Orang yang berilmu menyeru dengan lemah lembut dan baik hati, sementara yang jahil menyeru dengan kasar dan kemarahan.

Jenis ketiga ialah ilmu yang menyentuh kehidupan manusia di dalam dunia. Ia disebut sebagai ilmu agama (syariat) yang menjadi sarang kepada hikmah kebijaksanaan (makrifat). Ia adalah ilmu yang diperuntukkan kepada mereka yang menjadi pemerintah manusia; menjalankan keadilan ke atas sesama manusia; pentadbiran manusia ke atas sesama manusia. Bagian terakhir ayat Quran yang di atas tadi menceritakan tugas mereka “dan berbincanglah dengan mereka dengan cara yang lebih baik”. Mereka ini menjadi kenyataan kepada sifat Allah “al-Qahhar” Yang Maha Keras. Mereka berkewajiban menjaga peraturan di kalangan manusia selaras dengan hukum Tuhan, seumpama sabut melindungi tempurung dan tempurung melindungi isi.

Nabi s.a.w menasihatkan, “Biasakan dirimu berada di dalam majlis orang-orang arif, taatlah kepada pemimpin kamu yang adil. Allah Yang Maha Tinggi menghidupkan hati dengan hikmah seperti Dia jadikan bumi yang mati hidup dengan tumbuh-tumbuhan dengan menurunkan hujan” . Baginda s.a.w juga bersabda , “Hikmah adalah harta yang hilang bagi orang yang beriman, dikutipnya di mana saja ditemuinya”.

Malah perkataan yang diucapkan oleh manusia biasa datangnya daripada papan yang Terpelihara menurut hukum Allah terhadap segala perkara daripada awal hingga akhir. papan itu disimpan pada alam tinggi pada akal asbab tetapi perkataan diucapkan menurut makam seseorang. Perkataan mereka yang telah mencapai makam makrifat adalah secara langsung daripada alam tersebut, makam kedekatan dengan Allah. Di sana tidak ada perantara.

Ketahuilah bahwa semua akan kembali kepada asal mereka. Hati, zat, mesti dikejutkan; jadikan ia hidup untuk mencari jalan kembali kepada asalnya yang suci murni. Ia mesti mendengar seruan. Seseorang mesti mencari orang yang orang yang daripadanya seruan itu muncul, melaluinya lahir seruan. Itulah guru yang sebenar. Ini merupakan kewajiban bagi kita. Nabi s.a.w bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam lelaki dan perempuan”. Ilmu tersebut merupakan peringkat terakhir semua ilmu, itulah ilmu makrifat, ilmu yang akan membimbing seseorang kepada asalnya, yang sebenarnya (hakikat). Ilmu yang lain perlu menurut sekadar mana keperluannya. Allah menyukai mereka yang meninggalkan cita-cita dan angan-angan kepada dunia, kemuliaan dan kebesarannya, karena kepentingan duniawi ini menghalangi seseorang kepada Allah.
“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu upah atas (menyampaikan)nya, kecuali percintaan (kepadaku) lantaran kerabat”. (Surah Syura, ayat 23).

Label: ,

Jumat, 12 Desember 2014

maqom fana'

Tanda bahwa kamu telah menghindarkan dirimu dari kehendakmu dengan perbuatan Allah adalah apabila kamu tidak lagi melayani kebutuhan-kebutuhanmu, tidak lagi mempunyai tujuan apa-apa dan tidak lagi mempunyai kebutuhan atau maksud lain, karena kamu tidak mempunyai tujuan atau kebutuhan selain kepada Allah semata-mata. segala prilakumu sama sekali tak punya tujuan dan maksud, kecuali Allah, maka Perbuatan Allah tampak padamu dan pada masa kehendak dan perbuatan Allah itu bergerak. Badanmu pasif, hatimu tenang, pikiranmu luas, mukamu berseri dan jiwamu bertambah subur. Dengan demikian kamu akan terlepas dari kebutuhan terhadap kebendaan, karena kamu telah berhubungan dengan Al-Khaliq. Tangan Yang Maha Kuasa akan menggerakkanmu. Lidah Yang Maha Abadi akan memanggilmu. Tuhan semesta alam akan mengajar kamu dan memberimu pakaian cahaya-Nya dan pakaian kerohanian serta akan mendudukkan kamu pada peringkat orang-orang alim terdahulu.

Setelah mengalami semua ini, hati kamu akan bertambah lebur, sehingga nafsu dan kehendakmu akan hancur bagaikan sebuah tempayan yang pecah yang tidak lagi berisikan air walau setetespun. Kosonglah dirimu dari seluruh perilaku kemanusiaan dan dari keadaan tidak menerima suatu kehendak selain kehendak Allah. Pada peringkat ini, kamu akan dikaruniai keramat-keramat dan perkara-perkara yang luar biasa. Pada zhahirnya, perkara-perkara itu datang darimu, tapi yang sebenarnya adalah perbuatan dan kehendak Allah semata.

Oleh karena itu, masuklah kamu ke dalam golongan orang-orang yang telah luluh hatinya dan telah hilang nafsu-nafsu kebinatangannya. Setelah itu kamu akan menerima sifat-sifat ke-Tuhan-an yang maha tinggi. Berkenaan dengan hal inilah maka Nabi besar Muhammad SAW bersabda, “Aku menyukai tiga perkara dari dunia ini: bau-bauan yang harum, wanita dan shalat yang apabila aku melakukannya, maka mataku akan merasa sejuk di dalamnya”. Semua ini diberikan kepadanya setelah seluruh kehendak dan nafsu sebagaimana disebutkan di atas terlepas dari dirinya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama mereka yang telah luluh hatinya karena Aku”.

Allah Ta’ala tidak akan menyertai kamu, sekiranya semua nafsu dan kehendakmu itu tidak diluluhkan. Apabila semua itu telah hancur dan luluh, dan tidak ada lagi yang tersisa pada dirimu, maka telah pantaslah kamu untuk ‘diisi’ oleh Allah dan Allah akan menjadikan kamu sebagai orang baru yang dilengkapi dengan tenaga dan kehendak yang baru pula. Jika egomu tampil kembali, walaupun hanya sedikit, maka Allah akan menghancurkannya lagi, sehingga kamu akan kosong kembali seperti semula, dan untuk selamanya kamu akan tetap luluh hati. Allah akan menjadikan kehendak-kehendak baru di dalam diri kamu dan jika dalam pada itu masih juga terdapat diri (ego) kamu, maka Allah-pun akan terus menghancurkannya. Demikianlah terus terjadi hingga kamu menemui Tuhanmu di akhir hayatmu nanti. Inilah maksud firman Tuhan, “Sesungguhnya Aku bersama mereka yang telah luluh hatinya karena Aku.” Kamu akan mendapatkan dirimu ‘kosong’, yang sebenarnya ada hanyalah Allah.

Di dalam hadits Qudsi, Allah berfirman, “Hamba-Ku yang ta’at senantiasa memohon untuk dekat dengan-Ku melalui shalat-shalat sunatnya. Sehingga aku menjadikannya sebagai rekan-Ku, dan apabila Aku menjadikan dia sebagai rekan-Ku, maka aku menjadi telinganya yang dengan itu ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia memegang dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan, yakni ia mendengar melalui Aku, memegang melalui Aku, dan mengetahui melalui Aku.”

Sebenarnya, ini adalah keadaan ‘fana’ (hapusnya diri). Apabila kamu sudah melepaskan dirimu dan mahluk, karena mahluk itu bisa baik dan bisa juga jahat dan karena diri kamu itu bisa baik dan juga bisa jahat, maka menurut pandanganmu tidak ada suatu kebaikan yang datang dari diri kamu atau dari mahluk itu dan kamu tidak akan merasa takut kepada datangnya kejahatan dari mahluk. Semua itu terletak di tangan Allah semata. Karenanya, datangnya buruk dan baik itu, Dia-lah yang menentukannya semenjak awalnya.

Dengan demikian, Dia akan menyelamatkan kamu dari segala kejahatan mahluk-Nya dan menenggelamkanmu di dalam lautan kebaikan-Nya. Sehingga kamu menjadi titik tumpuan segala kebaikan, sumber keberkatan, kebahagiaan, kesentausaan, nur (cahaya) keselamatan dan keamanan. Oleh karena itu, ‘Fana’ adalah tujuan, sasaran, ujung dan dasar perjalanan wali Allah. Semua wali Allah, dengan tingkat kemajuan mereka, telah memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk menggantikan kehendak atau kemauan mereka dengan kehendak atau kemauan Allah. Mereka semuanya menggantikan kemauan atau kehendak mereka dengan kemauan atau kehendak Allah. Pendek kata, mereka itu mem-fana-kan diri mereka dan me-wujud-kan Allah. Karena itu mereka dijuluki ‘Abdal’ (perkataan yang diambil dari kata ‘Badal’ yang berarti ‘pertukaran’). Menurut mereka, menyekutukan kehendak mereka dengan kehendak Allah adalah suatu perbuatan dosa.

Sekiranya mereka lupa, sehingga mereka dikuasai oleh emosi dan rasa takut, maka Allah Yang Maha Kuasa akan menolong dan menyadarkan mereka. Dengan demikian mereka akan kembali sadar dan memohon perlindungan kepada Allah. Tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari pengaruh kehendak egonya (dirinya) sendiri, kecuali malaikat. Para malaikat dipelihara oleh Allah dalam kesucian kehendak mereka dan para Nabi dipelihara dari nafsu badaniah mereka. Sedangkan jin dan manusia telah diberi tanggung jawab untuk berakhlak baik, tetapi mereka tidak terpelihara dari dipengaruhi oleh dosa dan maksiat. Para wali dipelihara dari nafsu-nafsu badaniah dan ‘abdal’dipelihara dari kekotoran kehendak datu niat. Walaupun demikian, mereka tidak bebas mutlak, karena merekapun mungkin mempunyai kelemahan untuk melakukan dosa. Tapi, dengan kasih saying-Nya, Allah akan menolong dan menyadarkan mereka.

Label: ,