Selasa, 20 Januari 2015

tipuan jin

Mungkin ini tdk banyak orang tau, sehingga seringnya tertipu...
Para pengamal amaliyah, orang yang mengamalkan thoreqoh itu di 5 tahun pertama itu akan di datangi banyak jin, siluman, awalnya bersifat menyerang, menggoda dalam artian menggoda agar pengamalnya membatalkan amaliyahnya, entah lewat secara membuat godaan dalam sifatnya menakut nakuti, atau lewat masuk ke manusia lain, agar orang yang mengamalkan thoreqoh itu bisa menghentikan amaliyahnya.
Setelah gagal, mereka akan membuat godaan lain, godaan itu bersifat lebih lembut, dan tipuan, dia akan datang entah masuk ke mimpi atau datang secara langsung, dengan bentuk yang samar, mengaku sebagai guru, atau wali tertentu yang di condongi oleh pengamal thoreqoh.

Juga bisa menyerupai diriku, saya itu tdk pernah mendatangi siapa saja untuk memberikan amalan atau dengan keperluan apapun, mendatangi siapa saja, jika saya mau memberikan amalan atau ilmu, orang itu harus datang ke depan saya, karena nilai ilmu itu punya derajad, keagungan, jadi kok ada yang saya datangi maka itu adalah jin, tapi saya juga memerintah malaikat saya untuk mendatangi orang, biasanya bedanya bisa di rasakan, misal setelah mimpi ketemu saya, biasanya besoknya akan mendapatkan rizqi yang banyak yg tdk terduga, nah itu yang menyerupai saya adalah malaikat yg saya perintah.

Jadi orang yg mengamalkan amaliyah thoreqoh itu di bawah masa 5 tahun istiqomah, kok ada yang mendatangi mengaku ini itu, memakai jubah mengaku wali, siapa saja, ingat itu jin. Jadi sebaiknya hati2, jika kita kok ikut dalam pengakuannya, misal dia mengaku salah satu wali, lalu memberi amalan tertentu, lalu kamu mengamalkan, awalnya tak apa apa, tapi nanti ruhmu akan di ambil sebagian, sukmamu akan di ambil sebagian sebagai ganti amalan yg kamu dapatkan dari mereka.

Remehnya efek, kamu akan mudah lemah, lemah kepribadian, labil, sering kosong pandangan, dan sering blank, dan parahnya kamu akan hilang akal dan gila, biasanya kalau sudah habis di tawan ruh dan sukmamu, walau misal ku kembalikan, bisa, tapi gilanya tetap tak bisa waras kembali seperti semula.

Makanya hati-hati jangan mudah tertipu oleh jin yang mengaku ini itu, misal mendatangimu dalam pakaian jubah, lalu kamu menyangka itu wali ini, atau dia mengaku wali ini lalu kamu percaya,

Jika ingin di datangi orang berjubah dan berjenggot panjang, lebih mudah kamu belikan saja temanmu jubah, dan jenggot palsu, lalu suruh dia mendatangimu, itu malah lebih jelas, kamu tdk tertipu, karena tau betul itu temanmu, yg mendatangimu, bahkan jubahnya kamu yg membelikan, malah bagusnya kamu bisa foto foto, dan di upload di fb, dan kamu cerita kalau kamu sudah di temui lelaki berjenggot dan berjubah tiap hari. Dan yg penting kamu tdk tertipu.

Setelah istiqomah 5 tahun ke atas sampai 10 tahun, biasanya akan di datangi malaikat, bisa lewat mimpi, atau lewat bayangan, tapi malaikat itu biasanya dari khodam malaikat waliyulloh, yang ingin memberikan pengajaran padamu, karena berbagai sebab, bisa karena kamu sering mengirim fatekhah kepada auliya itu atau auliya itu melihatmu merasa iba dan sayang padamu, jadi dia ingin memberikan pengajaran padamu, tapi karena tingkatmu baru setingkat khodam maka mereka memerintah khodamnya untuk menemuimu, dengan menyerupai mereka.
---------------------

Setelah lewat masa 10 tahun istiqomah, kamu baru akan di datangi ruh auliya, tapi masih ruh biasa, bukan ruh idhofi/asli. Karena maqommu baru maqom ruh tingkat pemula, belum tingkat idhofi. Ruh itu ada 9 tingkat, setelah kamu sampai pada tingkat ruh idhofi, maka kamu masuk pada level kedudukan kewalian,
Di sini kamu akan di arahkan sesuai kedudukanmu, jika kamu setingkat wali abdal atau wali biasa, maka kamu akan di ajari berbagai ilmu, dari para wali biasa,
Jika tingkatmu adalah tingkat wali ghous, maka kamu akan di ajar oleh wali qutub, dan di ajar khodam malaikatnya rosululloh saw.
Jika tingkatmu wali qutub, kamu akan di ajar keilmuan oleh para nabi, para wali qutub, dan ruh agung rosululloh saw, tapi bukan ruh idhofi beliau.

Makanya ulama' itu di katakan warosatul ambiya, pewarisnya para nabi.

Amaliya itu nilainya di istiqomah menjalani, tidak ada yang tau kita itu akan jadi apa? Kedudukan kita apa? Makanya setelah istiqomah sekian lama baru orang itu akan tau apa kedudukannya di sisi Allah?

Tanda orang itu adalah orang yang punya kedudukan di sisi Allah, Allah akan menjadikan orang itu kuat dalam istiqomahnya, ikhlas mengamalkan amaliyah tdk mengharap apa apa....

Tanda orang itu tdk punya kedudukan, adalah tdk kuat menjalankan amaliyah secara istiqomah, kalah dengan kantuk, mudah menyerah, kalah dengan godaan ketika menjalankan amaliyah, atau orang itu kuat dalam istiqomah, tapi hatinya di penuhi harapan harapan atas amaliyah yang di lakukannya, ingin ini itu... sehingga hatinya terlalaikan tujuan hakiki menjalankan amaliyah.

Label: ,

Minggu, 04 Januari 2015

cara menggapai makrifat dzatulloh

Cinta Ilahi tidak akan hidup sehinggalah musuhnya, yaitu hawa nafsu badaniahmu, mati dan meninggalkanmu.

Mula-mulanya kamu mesti bebas dari egomu yang menggiringmu pada kejahatan. Kemudian kamu akan mulai memiliki suara hati yang belum penuh, walaupun kamu masih belum bebas sepenuhnya daripada dosa. Kamu akan memiliki perasaan mengkritik diri sendiri – tetapi belum mencukupi. Kamu mesti melepasi tahap tersebut kepada peringkat di mana hakikat yang sebenarnya dibukakan kepadamu, kebenaran tentang benar dan salah. Kemudian kamu akan berhenti melakukan kesalahan dan akan hanya melakukan kebaikan. kehendak dan tujuan akan di tarik kepada kebaikan saja, dan menolak pada kesalahan karena bisa terbacanya, ini saha, oh ini benar, itu namanya bisa membedakan kesalahan dan kebenaran, karena ego sudah tidak lagi mengemuka, kalau ego masih mengemuka maka ukuran benar dan salah masih memakai ukuran , kalau diri benar kalau nafsu senang di anggap benar kalau nafsu atau diri tak senang di anggap salah, patokan seperti itu akan mulai hilang, dan kebenaran dan kesalahan bukan lagi pendapat diri, tapi dari petunjuk rasa, kalau ini adalah kebenaran, kalau ini adalah kesalahan melihat aspek dan akibat yang di timbulkan.

Dengan demikian diri kamu akan menjadi bersih. Di dalam menentang hawa nafsu dan tarikan kesenangan badanmu, kamu mestilah melawan nafsu kehewanan – kerakusan, terlalu banyak tidur, banyak melamun, banyak nganggur tak melakukan apa-apa yang ada Allah di dalam apa yang kita lakukan, pekerjaan yang sia-sia – dan menentang sifat-sifat hewan liar di dalam dirimu – yaitu sifat kekejian, marah, kasar, ingin menang, kuat, sakti dan suka berkelahi. Kemudian kamu mesti usahakan membuang perangai-perangai ego yang jahat, takabur, sombong, dengki, dendam, tamak, benci, menyalahkan, ujub, bangga diri, serakah, kuasa, ingin di hormati dll penyakit tubuh dan hatimu. Cuma orang yang berbuat demikian yang benar-benar bertaubat dan menjadi bersih, suci murni dan tulen. “Sesungguhnya Allah kasih kepada orang yang bertaubat dan memelihara kesuciannya”. (Surah Baqarah, ayat 222).

Dalam melakukan taubat seseorang itu mestilah mengambil perhatian supaya penyesalannya tidak samar-samar dan tidak juga secara umum agar dia tidak jatuh ke dalam ancaman Allah: “Tidak kira berapa banyak mereka bertaubat mereka tidak sebenarnya menyesal. Taubat mereka tidak diterima”.

Ini ditujukan kepada mereka yang hanya mengucapkan kata-kata taubat tetapi tidak tahu sejauh mana dosa mereka, malah tidak mengambil tindakan pembaikan dan pencegahan. Itulah taubat yang biasa, taubat zahir yang tidak menusuk kepada puncak dosa. Ia adalah umpama orang yang membersihkan rumput dengan memotong bagian di atas tanah tetapi tidak mencabut akarnya yang di dalam bumi. Tindakan yang demikian membantu rumput untuk tumbuh dengan lebih segar. Orang yang bertaubat dengan mengetahui kesalahannya dan puncak kesalahan itu berjanji dengan hatinya sendiri tidak mengulanginya dan membebaskan dirinya daripada kesalahan itu, mencabut akar pokok yang merusakkan itu. Cangkul yang digunakan untuk menggali akarnya, puncak kepada dosa-dosa, ialah pengajaran kerohanian daripada guru yang benar. Tanah mestilah dibersihkan sebelum ditanam tanaman ilmu yang bermanfaat.

“Dan Kami bawakan perumpamaan kepada manusia supaya mereka memikirkannya”. (Surah Hasyr, ayat 21).

“Dia jualah Penerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampunkan dosa, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Surah Syura, ayat 25).

“Kecuali orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan amal salih, maka mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan karena Allah itu Pengampun, Penyayang”. (Surah Furqaan, ayat 70).

Ketahuilah taubat yang diterima tandanya ialah seseorang itu tidak lagi jatuh ke dalam dosa tersebut. atau tak jatuh lagi pada dosa yang di taubati,

Ada dua jenis taubat , taubat orang dan taubat mukmin sejati . Orang awam berharap meninggalkan kejahatan dan masuk kepada kebaikan dengan cara mengingati Allah dan mengambil langkah usaha bersungguh sungguh, meninggalkan hawa nafsunya dan kesenangan badannya dan menekankan egonya. Dia mesti meninggalkan keegoannya yang ingkar terhadap peraturan Allah dan masuk kepada taat. Itulah taubatnya yang menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam syurga.

Orang mukmin sejati, hamba Allah yang tulen, berada di dalam suasana yang jauh berbeza. Mereka berada pada makam makrifat yang jauh lebih tinggi daripada makam orang awam yang paling baik. Sebenarnya bagi mereka tidak ada lagi anak tangga untuk dipanjat; mereka telah sampai kepada kedekatan dengan Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan dan nikmat dunia ini dan menikmati kelezatan alam kerohanian – rasa kedekatan dengan Allah, nikmat menyaksikan Zat-Nya dengan mata keyakinan.

Perhatian orang awam tertuju kepada dunia ini dan kesenangan mereka adalah merasai nikmat kebendaan dan kewujudan kebendaannya. Malah, jika kewujudan kebendaan manusia dan dunia merupakan satu kesalahan begitu jugalah nikmat dan kecacatan yang paling baik daripadanya. Kata kata yang diucapkan oleh orang arif, “Kewujudan dirimu merupakan dosa, menyebabkan segala dosa menjadi kecil jika dibandingkan dengannya” . Orang arif selalu mengatakan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh orang baik-baik tidak mencapai kedekatan dengan Allah tidak lebih daripada kesalahan orang yang dekat dengan-Nya. kelalaian seorang yang dekat dengan Allah, itu adalah ingatnya orang baik, Jadi, bagi mengajar kita memohon keampunan terhadap kesalahan yang tersembunyi yang kita sangkakan kebaikan, Nabi s.a.w yang tidak pernah berdosa memohon keampunan dari Allah sebanyak seratus kali sehari. Allah Yang Maha Tinggi mengajarkan kepada rasul-Nya: “Pintalah perlindungan bagi buah amal kamu dan bagi mukmin dan mukminat”. (Surah Muhamamd, ayat 19).

Dia jadikan rasul-Nya yang suci murni sebagai teladan tentang cara bertaubat – dengan merayu kepada Allah supaya menghilangkan ego seseorang, sifat-sifatnya dan dirinya, semuanya pada diri seseorang, mencabut kewujudan diri seseorang. Inilah taubat yang sebenarnya.

Taubat yang demikian meninggalkan segala-galanya kecuali Zat Allah, dan berazam untuk kembali kepada-Nya, kembali kepadaNya untuk melihat Wajah Ilahi. Nabi s.a.w menjelaskan taubat yang demikian dengan sabda baginda s.a.w, “ Ada sebagian hamba-hamba Allah yang tulen yang tubuh mereka berada di sini tetapi hati mereka berada di sana , di bawah arasy”. Hati mereka berada pada langit kesembilan, di bawah arasy Allah karena penyaksian suci terhadap Zat-Nya tidak mungkin berlaku pada alam bawah.

Di sini hanya kenyataan atau penzahiran sifat-sifat suci-Nya yang dapat disaksikan, memancar ke atas cermin yang bersih kepunyaan hati yang suci. Saidina Umar r.a berkata, “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku”. Hati yang suci adalah cermin di mana keindahan, kemuliaan dan kesempurnaan Allah memancar. Nama lain yang diberi kepada suasana ini ialah pembukaan (kasyaf), menyaksikan sifat-sifat Ilahi yang suci.

Bagi memperolehi suasana tersebut, untuk membersihkan dan menyinarkan hati, perlulah kepada guru yang matang, yang di dalam keesaan dengan Allah, yang disanjung dan dimuliakan oleh semua, dahulu dan sekarang. Guru berkenaan mestilah telah sampai kepada makam kedekatan dengan Allah dan dihantar balik ke alam rendah oleh Allah untuk membimbing dan menyempurnakan mereka yang layak tetapi masih mempunyai kecacatan.

Di dalam penurunan mereka untuk melakukan tugas tersebut wali-wali Allah mestilah berjalan Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w dengan mengikuti teladan baginda s.a.w, tetapi tugas mereka berlainan dengan tugas rasul. Rasul diutuskan untuk menyelamatkan banyak orang, keberadaannya bukan untuk kepentingan orang perorang atau menjadi pemuas kesenangan satu orang, dia bukan milik siapa-siapa tapi milik Allah yang di antar ke dunia rendah untuk menuntun banyak orang ke alam tinggi derajad kemulyaan di sisi Allah, dan juga orang-orang yang beriman. Guru-guru tadi pula tidak dihantar untuk mengajar semua orang tapi menjadi milik semua orang tapi hanya mengajar orang kepada orang-orang di pilih saja, yang orang mampu dan di beri kemampuan untuk menyerap ilmu dan kepahaman, cahaya kemakrifatan. Rasul-rasul diberi kebebasan dalam menjalankan tugas mereka, sementara wali-wali yang mengambil tugas sebagai guru mesti mengikuti jalan rasul-rasul dan nabi nabi.

Guru kerohanian yang mengaku diri mereka merdeka, merdeka dari hukum syariat menyamakan dirinya dengan nabi, jatuh kepada kesesatan dan kekufuran. Bila Nabi s.a.w mengatakan sahabat-sahabat baginda yang arif adalah umpama nabi-nabi Bani Israil, baginda memaksudkan lain daripada ini – karena nabi-nabi yang datang selepas Musa a.s semuanya mengikuti prinsip agama yang dibawa oleh Musa a.s. Mereka tidak membawa peraturan baru. Mereka mengikuti undang-undang yang sama. Seperti mereka juga orang-orang arif dari kalangan umat Nabi Muhammad s.a.w yang bertugas membimbing sebagian daripada orang-orang suci yang dipilih, mengikuti kebijaksanaan Nabi s.a.w, tetapi menyampaikan perintah dan larangan dengan cara baru yang berbeda, terbuka dan jelas, menunjukkan kepada murid-murid mereka dengan perbuatan yang mereka kerjakan pada masa dan keadaan yang berlainan. Mereka memberi dorongan kepada murid-murid mereka dengan menunjukkan kelebihan dan keindahan prinsip-prinsip agama. Tujuan mereka ialah membantu pengikut-pengikut mereka menyucikan hati yang menjadi tapak untuk membina tugu makrifat.

Dalam semua itu mereka mengikut teladan daripada pengikut-pengikut Rasulullah s.a.w yang terkenal sebagai ‘golongan yang memakai baju bulu' yang telah meninggalkan semua aktiviti keduniaan untuk berdiri di pintu Rasulullah s.a.w dan berada hampir dengan baginda. Mereka menyampaikan khabar sebagaimana mereka menerimanya secara langsung dari mulut Rasulullah s.a.w. Dalam kedekatan mereka dengan Rasulullah s.a.w mereka telah sampai kepada peringkat di mana mereka boleh berbicara tentang rahasia isra' dan mikraj Rasulullah s.a.w sebelum baginda membuka rahasia tersebut kepada sahabat-sahabat baginda.
23 jam · Teman

Label:

ilmu makrifat ilmu para nabi dan wali

Tidak semua orang yang memiliki ilmu berada di dalam kedudukan kewalian, dan memperoleh nur muhammad. Mereka yang sampai ke situ adalah yang lebih dekat kepada Rasulullah s.a.w dari anak-anak dan keluarga mereka sendiri dan mereka adalah umpama anak-anak kerohanian Rasulullah s.a.w yang hubungannya lebih erat daripada hubungan darah. Mereka adalah pewaris sebenar-benarnya kepada Nabi s.a.w. Anak yang sejati memiliki zat dan rahasia bapanya pada rupa lahirnya dan juga pada batinnya. Nabi s.a.w menjelaskan rahasia ini, “Ilmu khusus adalah umpama khazanah rahasia yang hanya mereka yang mengenali Zat Allah boleh mendapatkannya. Namun bila rahasia itu dibukakan orang yang mempunyai kesedaran dan ikhlas tidak menafikannya”.

Ilmu tersebut dimasukkan kepada Nabi s.a.w pada malam baginda s.a.w mikraj kepada Tuhannya. Rahsia itu tersembunyi di dalam diri baginda di sebalik tiga ribu tabir hijab. Baginda s.a.w tidak membuka rahasianya melainkan kepada sebagian pengikut baginda yang sangat dekat dengan baginda. Melalui penyebaran dan keberkatan rahasia inilah Islam akan terus memerintah sehingga ke hari kiamat.

Pengetahuan batin tentang yang tersembunyi membawa seseorang kepada rahasia tersebut. Sains, kesenian dan skill ketrampilan keduniaan adalah umpama kerangka kepada pengetahuan batin. Mereka yang memiliki pengetahuan kerangka itu bolehlah mengharapkan satu hari nanti mereka diberi kesempatan untuk memiliki apa yang di dalam kerangka. Sebahagian daripada mereka yang berilmu memiliki apa yang patut dimiliki oleh seorang manusia secara umumnya sementara sebagian yang lain menjadi ahli dan memelihara ilmu tersebut daripada hilang. Ada golongan yang menyeru kepada Allah dengan nasihat yang baik. Sebagian mereka mengikuti sunnah Nabi s.a.w dan dipimpin oleh Saidina Ali r.a. yang menjadi pintu kepada gedung ilmu yang melaluinya masuklah mereka yang menerima undangan dari Allah. “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” . (Surah Nahl, ayat 125).

Maksud dan perkataan mereka adalah sama. Perbedaan pada lahirnya hanyalah pada perkara-perkara terperinci dan cara pelaksanaannya.

Sebenarnya ada tiga makna yang kelihatan sebagai tiga jenis ilmu yang berbeda – dilakukan secara berbeda, tetapi menjurus kepada yang satu Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w. Ilmu dibagikan kepada tiga yang tidak ada seorang manusia boleh menanggung keseluruhan beban ilmu itu juga tidak berupaya mengamalkan dengan sekalian semuanya.

Bagian pertama ayat di atas “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana (hikmah)” , Sesuai dengan makrifat, zat dan permulaan kepada segala sesuatu, pemiliknya mestilah sebagaimana Nabi s.a.w beramal Sesuai dengannya. Ia hanya dikurniakan kepada lelaki sejati yang berani, tentara kerohanian yang akan mempertahankan kedudukannya dan menyelamatkan ilmu tersebut. Nabi s.a.w bersabda, “Kekuatan semangat lelaki sejati mampu menggoncang gunung” . Gunung di sini menunjukkan keberatan hati setengah manusia. Doa lelaki sejati yang menjadi tentera kerohanian dimakbulkan. Bila mereka menciptakan sesuatu ia berlaku terjadi, bila mereka maukan sesuatu hilang maka ia pun hilang. “Dia kurniakan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Barangsiapa dikurniakan hikmah maka sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak”. (Surah Baqarah, ayat 269).

Jenis kedua ialah ilmu lahiriyah yang disebut Quran sebagai “seruan yang baik”. Ia menjadi kulit kepada hikmah kebijaksanaan rohani. Mereka yang memilikinya menyeru kepada kebaikan, mengajar manusia berbuat baik dan meninggalkan larangan-Nya. Nabi s.a.w memuji mereka. Orang yang berilmu menyeru dengan lemah lembut dan baik hati, sementara yang jahil menyeru dengan kasar dan kemarahan.

Jenis ketiga ialah ilmu yang menyentuh kehidupan manusia di dalam dunia. Ia disebut sebagai ilmu agama (syariat) yang menjadi sarang kepada hikmah kebijaksanaan (makrifat). Ia adalah ilmu yang diperuntukkan kepada mereka yang menjadi pemerintah manusia; menjalankan keadilan ke atas sesama manusia; pentadbiran manusia ke atas sesama manusia. Bagian terakhir ayat Quran yang di atas tadi menceritakan tugas mereka “dan berbincanglah dengan mereka dengan cara yang lebih baik”. Mereka ini menjadi kenyataan kepada sifat Allah “al-Qahhar” Yang Maha Keras. Mereka berkewajiban menjaga peraturan di kalangan manusia selaras dengan hukum Tuhan, seumpama sabut melindungi tempurung dan tempurung melindungi isi.

Nabi s.a.w menasihatkan, “Biasakan dirimu berada di dalam majlis orang-orang arif, taatlah kepada pemimpin kamu yang adil. Allah Yang Maha Tinggi menghidupkan hati dengan hikmah seperti Dia jadikan bumi yang mati hidup dengan tumbuh-tumbuhan dengan menurunkan hujan” . Baginda s.a.w juga bersabda , “Hikmah adalah harta yang hilang bagi orang yang beriman, dikutipnya di mana saja ditemuinya”.

Malah perkataan yang diucapkan oleh manusia biasa datangnya daripada papan yang Terpelihara menurut hukum Allah terhadap segala perkara daripada awal hingga akhir. papan itu disimpan pada alam tinggi pada akal asbab tetapi perkataan diucapkan menurut makam seseorang. Perkataan mereka yang telah mencapai makam makrifat adalah secara langsung daripada alam tersebut, makam kedekatan dengan Allah. Di sana tidak ada perantara.

Ketahuilah bahwa semua akan kembali kepada asal mereka. Hati, zat, mesti dikejutkan; jadikan ia hidup untuk mencari jalan kembali kepada asalnya yang suci murni. Ia mesti mendengar seruan. Seseorang mesti mencari orang yang orang yang daripadanya seruan itu muncul, melaluinya lahir seruan. Itulah guru yang sebenar. Ini merupakan kewajiban bagi kita. Nabi s.a.w bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam lelaki dan perempuan”. Ilmu tersebut merupakan peringkat terakhir semua ilmu, itulah ilmu makrifat, ilmu yang akan membimbing seseorang kepada asalnya, yang sebenarnya (hakikat). Ilmu yang lain perlu menurut sekadar mana keperluannya. Allah menyukai mereka yang meninggalkan cita-cita dan angan-angan kepada dunia, kemuliaan dan kebesarannya, karena kepentingan duniawi ini menghalangi seseorang kepada Allah.
“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu upah atas (menyampaikan)nya, kecuali percintaan (kepadaku) lantaran kerabat”. (Surah Syura, ayat 23).

Label: ,

kedudukan kewalian dan guru rohani

Wali-wali yang menjadi guru pembimbing, memiliki kedekatan yang serupa dengan Nabi s.a.w dengan Tuhannya. Amanah dan penjagaan terhadap ilmu ketuhanan yang serupa dianugerahkan kepada mereka. Mereka merupakan Pemegang sebagian daripada kenabian, dan diri batin mereka selamat di bawah penjagaan Rasulullah s.a.w. dalam wali-wali pembimbing juga ada tingkatan kedudukan, sudah pernah saya tulis update status saya soal kedudukan kewalian dalam sifat secara umum, ini sedikit ku tulis soal kedudukan kewalian secara khusus, kesejatian kewalian dalam pembimbing itu semua membawa cahaya nur muhammad, besar kecilnya cahaya itu yang menjadikan tinggi rendahnya derajad, dalam penggambarannya nur Allah itu memancar pada nur muhammad dan nur muhammad itu memnacar paa orang yang di kehendakinya, orang yang di kehendakinya membawa nur paling besar itu mempunyai keturunan terdekat dengan rosululloh sendiri, sebab yang kuat membawa cahaya yang besar itu hanya bibit yang unggul.

ingat suatu kata, tulisan, gerak, laku, itu kcalau tidak membawa cahaya maka tidak begitu ada efek yang di timbulkan, sekalipun itu di ucapkan menggebu-gebu, efek di sini yang maksud adalah efek pancaran keimanan keyakinan dan tarikan kekuatan beribadah pada Allah, bukan efek melakukan suatu kemaksiatan, jadi ucapan ajakan, tulisan seruan kepada ibadah itu tak akan berimbas menimbulkan bekas di dalam hati jika tulisan atau ajakan itu tdk ada nur muhammad di dalamnya, jika ada nur muhammad di dalamnya atau di sandarkan pada orang yang memiliki gilang gemilang nur muhammad, maka efek yang di timbulkan, berbekas sangat kuat, nah kuatnya bekas yang di timbulkan itu tergantung dengan tinggi rendahnya kedudukan orang yang memiliki nur muhammad itu, bekas yang di timbulkan itu bukan hanya berbondong-bondongnya orang yang datang tapi kuatnya orang menjalankan ajakan itu menjalankan amaliyah yang di berikan, ada kehangatan semangat menggelora membakar kemauan kuat dalam hati orang yang menerima pancaran nur muhammad yang di bawa oleh orang yang ada nu muhammad i dalam dadanya.

dalam kewalian itu tingkatan pembimbing setiap jaman ada, ada namanya wali kutub, yaitu yang mencetak wali-wali kecil untuk menjadi
tentara yang akan membimbing orang awam kebanyakan, untuk mencapai derajad kemakrifatan sesuai kdar masing masing orang, ada bayak wali kutub sejak jaman rasululloh sampai sekarang, karena setiap masa itu ada, ada kadang satu masa beberpa wali kutub, dalam wali kutub juga ada tingkatan-tingakatan, jadi ada wali kutub tingkat rendah biasanya untuk membimbing banyak orang, dan ada wali kutub tingkatan menengah dan tinggi, mereka membimbing para wali yang lebih punya tingkatan, dan ada kedudukan di atas wali kutub, yaitu wali yang ada di jaman-jaman tertentu, sejak jaman nabi muhammad sampai hari kiamat hanya ada empat saja, namanya imamul auliya, yang menjadi imam bagi semua wali, semua auliya akan berdiri di belakangnya untuk ikut sholat berjamaah di belakangnya, sebagaimana nabi itu imamul ambiya wal mursalin, menjadi imam bagi para nabi dan rosul. kedudukan imamul auliya ini memegang kedudukan semua wali dari wali qutub sampai wali badal semua ada padanya, di ajar langsung oleh rosululloh saw.

dalam pengertian orang di ajar langsung oleh rosululloh saw itu juga sebenarnya di dalamnya ada tingkatan-tingkatannya, hadis riwayat Muslim dan Abû Dâwûd melalui jalur Abû Hurairah ra. Berikut teks hadis tersebut:
“Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku.” dalam kontek kebenarannya, saya hanya akan mengambil kata "Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku" jadi jelasnya begini, jadi para auliya' yang tingkatannya tinggi, misal sekelas wali kutub itu mereka juga di ajar langsung di bawah rosululloh SAW, tapi di bawah rosululloh itu banyak macamnya, seperti orang indonesia yang ke luar negeri, di tanya orang, kamu jabatannya apa? saya di bawah joko wi presiden indonesia, nah kedudukan di bawah joko wi itu ada yang berkedudukan sebagai lurah, camat, bupati, gubernur, dll, bahkan hansip juga ada, jabatan hansip tentu beda dengan jabatan gubernur, sekalipun duduk di kursi yang sama waktu menghadiri kondangan, jadi ketika seseorang itu di temui oleh nabi saw, dan itu benar tidak sama sekali di tiru oleh setan, kalau itu bentuk menyerupai nabi, karena rosululloh sendiri tak bisa di tiru oleh setan atau jin, ini bukan yang mengaku nabi lo ya, kalau mengaku nabi, setan juga jin jelas bisa melakukan kamu juga bisa kok mengaku nabi, ini bahasannya soal menyerupai nabi, setan tdk bisa membentuk menyerupai nabi saw, tapi biasanya rosululloh memerintahkan malaikat untuk menyerupai beliau, jadi mendatangi orang yang di kehendaki, juga para wali kutub itu tak ada yang di datangi ruh asli/idhofi rosululloh, tapi hanya di datangi ruh biasa, dan orang yang di datangi ruh idhofi rosululloh itu hanya para auliya yang menjadi imam dari para wali, karena apa kok imamul auliya itu di datangi rosululloh secara langsung, karena orang itu harus memakai jubah yang di berikan rosululloh namanya jubah imamah, sebagai penerus rosululloh saw, atau warosatul ambiya, dan yang memakaikan dan mengangkatnya juga rosululloh saw, di saksikan semua nabi dan sahabat.

Label:

Kamis, 01 Januari 2015

jenis2 thoriqot

jalan penempuhan (Thariqat) itu ada dua. Thariqat bagi kalangan Khos, dan Thariqat bagi kalangan publik (umum). Dimaksud dengan Thariqat Khos itu, adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan yang Dicintai Allah (al-Mahbubin), yang merupakan Abdal para Rasul. Sedangkan Thariqat Umum adalah Thariqat yang ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin), yaitu Abdal para Nabi. Semoga Salam Sejahtera bagi mereka semua.

Thariqat Khos adalah Thariqat yang sangat elit yang sulit dicerna akal biasa, dan langka sekali yang mampu menguraikan substansinya. Bagi Anda cukup dengan Thariqat Umum, yaitu jalan penempuhan melalui satu tahap ke tahap lainnya yang lebih luhur hingga sampai pada suatu tahap tertentu, yaitu , “tempat duduk yang benar di sisi Raja Yang Maha Berkuasa”.

Jejak pertama yang harus dtempuh oleh seorang pecinta (al-Muhibb) adalah menaiki suatu tahap ke tahap yang lebih tinggi, yaitu Nafsu. Ia tersibukkan oleh sebab akibat di sana dan bagaimana seseorang mengolah nafsunya (mengendalikannya) sampai tangga kema’rifatan, Manakala ia telah mencapai tahap ma’rifat dan meraih hakikat di sana, ia akan mendapatkan pencerahan cahaya di tahap kedua, yaitu Kalbu. Dalam tahap ini ia berada dalam kesibukan “bersiasat” dalam dunia ma’rifatnya. Manakala tidak ada lagi yang tersisa tahapannya, ia menaiki tangga ketiga, yaitu Ruh. Lalu ia bersibuk diri dengan Siasat Ruh dan kema’rifatannya. Apabila ma’rifatnya sudah sempurna maka sedikit demi sedikit mengalirlah cahaya-caha keyakinan, sampai pandangannya lupa dengan luapan-luapan cahaya itu, sampai keyakinannya benar-benar jelas, sehingga ia tidak lagi mampu berfikir terhadap pencahayaan tiga tahap yang berlalu itu. Maka disanalah ia bebas berhasrat sesuai dengan kehendak Allah . Lalu Allah melimpahkan melalui Nur Akaly yang asli dalam Nur keyakinan. Maka ia menyaksikan adanya yang dimaujudkan tanpa batas dan pangkal, jika disandarkan pada si hamba tersebut. Sehingga lenyaplah seluruh jagad ini didalamnya.

Kadang-kadang seperti tabung yang terlihat di udara melalui cahaya matahari, maka, ketika cahaya matahari itu membakar, tabung itu tidak lagi tampak bekasnya.

Matahari itu adalah akal yang lazim, yang bisa memperlihatkan obyek, setelah terpenuhi oleh materi cahaya keyakinan. Apabila seluruh cahaya itu lenyap, maka seluruh jagad itu sirna pula, dan yang ada hanyalah yang maujud ini. Kadang tampak ada, kadang sirna, sampai ketika ia menghendaki kesempurnaan, ia dipanggil oleh panggilan yang lembut, tanpa suara, yang hanya bisa difahami saja. Hanya saja yang bisa menyaksikan selain Allah, tiada sesuatu yang lain selain Allah. Maka, disitulah ia bangun dan sadar dari “mabuk”nya. Lalu bermunajat, “Oh Tuhan, tolonglah daku…., Duh Gusti, tolonglah aku…sungguh aku telah musnah…”

Dari sana ia tahu dengan seyakin-yakinnya, bahwa siapapun tidak bisa selamat dari lautan itu melainkan karena pertolongan Allah. Disaat seperti itu dikatakan padanya, “Maujud ini adalah Akal, seperti yang disabdakan Rasulullah saw, bahwa yang pertamakali diciptakan oleh Allah adalah akal.” Pada hadits lain dijelaskan, “Allah berfirman pada akal itu, ‘Menghadaplah!’ dan akal itu pun menghadap.”
Hamba ini lantas dianugerahi rasa hina dan keselamatan melalui Cahaya Maujud itu, sebab batas dan ukurannya tiada terkira, sehingga ia tak mampu mengenalnya. Dikatakan padanya, “Betapa jauhnya, batas itu tidak bisa dikenal kecuali bersama Allah.” Lantas Allah Yang Maha Agung nan Luhur memberikan petunjuk melalui Cahaya Asma’-Nya, muncullah bagai sekelebat kedipan mata, atau seperti yang dikehendaki-Nya (Kami mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki), kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Ruh Rabbany, lalu ia pun mengenal Maujud ini. Hamba tadi naik ke medan Ruh Rabbany, tiba-tiba sirna seluruh riasan keindahan yang menyertainya, lalu secara otomatis ia tersunyikan, tinggalah segala yang ada ini menjadi Maujud. Kemudian Allah menghidupkannya melalui Cahaya Sifat-sifatNya, lalu dengan kehidupan itu Allah menaikkan ke dalam pengenalan Maujud Rabbany itu.

Ketika hamba terurai dari dasar-dasar SifatNya, hampir-hampir ia sebutkan, “Dialah Allah”. Tiba-tiba ia ditemui oleh Pertolongan Azaly, lalu muncul panggilan, “Ingatlah! Bahwa maujud itu adalah yang tiada bolh disifati oleh siapa pun, tidak boleh pula dimengerti melalui ibarat apa pun melalui Sifat-sifatNya melainkan oleh ahlinya, namun melalui cahaya lain yang mengenalnya.” Kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Sirr Ruh (rahasia batin Ruh), tiba-tiba ia sudah duduk di pintu medan Sirr.

Hasratnya mengembang untuk mengenal Maujud itu yang tidak lain adalah Sirr itu sendiri. Namun, ia telah buta untuk mengenalnya, lalu seluruh sifat-sifatnya sirna, seakan-akan tak ada sesuatu pun padanya. Kemudian Allah melimpahkan Cahaya DzatNya, dengan limpahan Kehidupan Keabadian yang tiada hingga. Semua yang diketahui memandang dengan Cahaya Kehidupan ini, lantas seluruh penghuni Maujud ini menjadi Cahaya yang memancar pada segala yang ada, tidak lagi ada yang bisa disaksikan selain Dia. Muncullah panggilan dari jarak yang sangat dekat saat itu: “Janganlah terpedaya dengan Allah, karena yang Dicintai justru dari tirai (hijab), dari Allah, beserta Allah. Sebab mustahil Allah dihijabi oleh selain Allah.” Lalu ia hidup dengan kehidupan yang dititipkan oleh Allah di dalamnya. Hamba itu lalu berkata, “Duh, Gusti….BesertaMu, DariMu, KepadaMu, betapa tak berdayanya daku. Sesungguhnya aku memohon perlindungan padaMu dariMu, sampai aku tidak melihat lagi selain DiriMu.”

Itulah jalan yang tanjakannya menuju Hadirat Allah Yang Luhur, yaitu jalan ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin) , sebagai para Badal Nabi.

Sedangkan yang dianugerahkan pada salah seorang dari mereka setelah itu, tak satu pun orang yang bisa mengukur atau mendeskripsikannya.
=====================

para penempuh jalan Sufi melakukan melalui dua metode:
Metode pertama melalui cara yang ditempuh khalayak awam (umum) dan ada pula yang ditempuh oleh khalayak khusus (Khos). Pandangan awam maupun Khos di sini, tidak bersifat sosiologis maupun intelektual. Tetapi bersifat spiritual. Penentuan seseorang melalui sistem Awam atau pun Khos, hanyalah bentuk penempuhan itu sendiri. Sebagaimana dalam Al-Qur’an ada istilah al-Muhibbin dan Al-Mahbubin, ada ash-Shiddiqin dan ada pula ash-Shadiqin. Konteks lain dari istilah Sufi, ada proses yang bersifat Al-Murid ada juga dengan proses Al-Murad. Jadi kategori di atas hanyalah kategori proses penempuhannya. Karena itu dibutuhkan Mursyid Kamil Mukammil untuk membimbing, masing-masing terhadap kedua proses di atas.

Dalam Al-Mafakhir, dikutip ucapan asy-Syadzily tentang kategori penempuhan di atas, beliau mengatakan secara panjang lebar:

“Perlu diketahui bahwa pengetahuan yang menurut pemiliknya dianggap terpuji, hal itu bisa dianggap gelap bagi ahli hakikat. Ahli hakikat ini adalah mereka yang yang menyelami Lautan Dzat dan kedalaman Sifat-sifat. Di sana, mereka tanpa memiliki hasrat. Dan mereka itulah kalangan elit atau Khos yang Luhur. Yaitu mereka yang menyertai martabat para Nabi dan Rasul, walau pun martabat para Nabi dan Rasul itu lebih mulia. Sebab mereka ini mempunyai bagian dari martabat itu, karena baik Nabi maupun para Rasul dari ummat ini, pasti mempunyai pewaris, dan setiap pewaris mempunyai bagian dari peninggalan warisannya. Nabi saw, bersabda, “ Para Ulama itu adalah pewaris para Nabi.” Dan tentunya para pewaris itu memiliki kedudukan yang diketahui dari yang mewariskannya, dari segi pewarisan ilmu pengetahuan dan hikmah. Namun bukan dari segi perwujudan posisi dan kondisi anugerah ruhani (al-maqam wal-haal). Sebab maqam para Nabi itu terlalu luhur untuk diraih oleh selain para Nabi sendiri, semedntara setiap pewaris mendapatkan sebagian maqam itu menurut warisan yang diterimanya. Karena Allah swt, sudah berfirman, “Niscaya benar-benar Kami utamakan sebagian Nabi atas sebagian yang lainnya”. Begitu juga Allah memberikan posisi keutamaan para wali satu sama lainnya berbeda.

Para Nabi senantiasa menyertai Pandangan Allah, dan setiap pandangan yang melimpah dari pandangan para Nabi akan tertuang menurut kadarnya.

Sementara setiap Wali memiliki muatan yang spesifik, sehingga dunia Wali terbagi menjadi dua:

Satu bagian disebut sebagai para Abdal (pengganti) bagi para Nabi Bagian kedua, adalah pengganti para Rasul.

Abdal para Nabi disebut sebagai kalangan Shalihun, sedangkan Abdal para Rasul disebut ash-Shiddiqun. Antara Shalihun dengan Shiddiqun, posisi keutamaannya sama dengan antara para Nabi dan Rasul. Maka dari mereka, dan dari mereka pula. Hanya saja diantara mereka itu adala kelompok khusus yang mendapatkan substansi materi langsung dari Rasulullah saw, yang mereka saksikan dengan pandangan keyakinan.

Tetapi jumlah kelompok sedikit, namun dalam jumlah perwujudan hakkatnya cukup banyak. Setiap Nabi dan Wali selalu bermula dari substansi Rasulullah saw,. Karena diantara para Wali itu ada yang menyaksikan dengan pandangannya, dan sebagian mereka yang ada yang tersembunyikan pandangan dan substansi materinya. Mereka malah fana’ dalam anugerah yang turun padanya dan tidak tersibukkan dengan mencari substansi materinya itu, bahkan , mereka itu tenggelam dalam anugerah ruhani (haal) sampai tidak lagi melihat kecuali hanya pada “waktunya”.

Diantara mereka ada yang terlimpahi melalui Nur Ilahi, sehingga mereka dapat memandang memalui cahaya itu, dan mengenal urusannya secara hakikat. Dan yang demikian itu merupakan karomah bagi mereka, yang tidak bisa diingkari kecuali oleh mereka yang memang mengingkari karomah para Wali. Kita semua mohon perlindungan dari keingkaran terhadap sesuatu setelah kita mengenal sesuatu itu. Mereka itu menempuh Thariqat yang tidak ditempuh oleh yang lainnya.

Label:

Selasa, 25 November 2014

pengertian syareat tarekat hakikat makrifat

syareat itu teori lahir, tasawuf itu teori batin, menjalankan keduanya di namakan tarekat, dan tujuannya adalah hakekat, mengetahui syareat, tasawuf, menjalankan tarekat sampai bertemu hakikat di namakan makrifat, dan mengajarkannya kembali itu di namakan mursyid.

jadi makrifat itu tau dengan jelas tujuan pencapaian, tau dengan mata lahir dan sesuatu yang bersifat lahir dan tau dengan basiroh mata batin sesuatu yang ghaib. pencapaian itu tdk akan tercapai kecuali dengan izin Allah, tdk bisa manusia membuka yang ghaib di balik kesemua alam, dan tdk akan manusia itu mencapai itu kecuali Allah menghendaki. dan kehendak Allah itu hanya kepada yang di kehendakiNya, itu hak preogratif Allah. Allah tdk bisa di paksa menentukan kehendaknya.

orang yang di kehendaki Allah akan di bentuk untuk kuat menerima kehendakNya, orang yang akan di anugerahi Allah akan di beri kekuatanNya untuk menerima anugerahNya, tandanya orang itu di kehendaki kuat menerima karuniaNya adalah di beri kekuatan menjalankan ketaatan padaNya dan di beri kekuatan terlepas dari ingkar padaNya.
tandanya orang itu di beri kekuatan taat dan kekuatan menjauhi maksiat adalah orang itu di beri kekuatan yakin atas ketentuanNya.
sumber : https://m.facebook.com/majlis.bligo
 biarkan segala sesuatu pada tempatnya, tapi juga pisahkan untuk mengurainya, dalam segala sesuatu itu ada syareatnya, ada teori lahiriyahnya, ada teori batiniahnya atau ada ilmu tasawufnya, juga ada tarekatnya, dalam syareat itu ada syareat dan tasawuf, dalam tasawuf juga ada syareat dan tasawufnya, juga ada fakta hakikatnya, dalam hakikat ada sareat dan tasawufnya, dalam hakikat ada hakikat lagi di dalamnya, dan hakikatnya hakikat adalah cahaya dalam cahaya, cahaya di atas cahaya, nurun ala nurin, cahaya cahaya adalah Allah, seseorang harus melewati jalan untuk mencapai jalan, seseorang harus melewati tujuan agar sampai tujuan yang di tuju, seseorang harus melewati hidayah demi hidayah untuk mencapai puncak segala hidayah, seseorang harus melewati banyak persinggahan untuk mencapai persinggahan yang sejati, jangan tertipu oleh syaitan, yang membujukmu telah sampai, lalu kamu berhenti, sudah matipun kita masih menempuh persinggahan selanjutnya, dan menempuh perjalanan di alam ruh, dan setelah alam ruh kita menempuh lagi alam mahsar, siang ini adalah untuk menyiapkan bekal malam nanti, hari ini untuk besok, dan dunia untuk bekal akherat.

Label: