Selasa, 13 Januari 2015

Merubah takdir dengan doa

Dalam kitab Muntakhob Jawahiril Qolaid diriwayatkan, ada seorang
perempuan datang menghadap Syekh Abdul Qodir, maksudnya ia mohon do'a restu dan karomah Syekh agar ia dikaruniai seorang anak yang menjadi dambaan hati buah pelerai lara.

Lalu Syaikh melihat tulisannya di Lauhil Mahfudz, ternyata bagi perempuan itu tidak ada tulisan akan mempunyai anak. Disaat itu pula Syekh berdo'a kepada Alloh Yang Maha Berkuasa agar perempuan itu diberi dua orang anak.

Selesai beliau berdo'a terdengar sabda Alloh :"Bukankah kamu sudah melihat di Lauhil Mahfudz bahwa seorang anakpun tidak ada tulisannya bagi perempuan itu, dan sekarang malah kamu minta dua orang anak ?".

Syekh berkata lagi : "Saya mohon tiga anak".

Dikala itu datang lagi sabda Alloh : "Kamu sudah melihat di Lauhil Mahfudz
ia tidak ada lukisannya seorang anakpun, kini kamu minta tiga anak".

Syekh berkata lagi: "Ya Alloh saya mohon empat orang anak".

Demikian seterusnya permohonan Syekh bertambah meningkat sampai pada permohonan tujuh orang anak.

Pada waktu sampai batas tujuh orang anak, datang sabda Alloh: "Sekarang sudah cukup, jangan lebih dari tujuh, dan permohonan itu Ku-terima".

Atas anugerah karunia itu lalu beliau bersujud syukur kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Kemudian Syekh mencomot segumpal tanah, dan sedikit dari tanah itu diberikan kepada perempuan itu. Dengan mengharap barokahnya lalu
perempuan itu membuat liontin mata kalung dari tanah itu yang dilapisi perak.

Beberapa hari kemudian perempuan itu hamil, dan sampai masa sembilan bulan ia melahirkan bayi kembar siam tujuh bayi laki-laki semuanya dalam keadaan sehat dan selamat. Kian hari bayi itu menjadi besar dan meningkat menjadi anak- anak dewasa. Beberapa tahun kemudian, keyakinan perempuan itu menjadi berubah.
Tercetus dalam bisikan hati perempuan itu prasangka buruk terhadap Syekh. Ia berkata sambil memegang perhiasan liontin mata kalung yang dipakai: "Untuk apa gunanya tanah ini tiap hari selalu bergantung di bawah leherku, sekarang aku sudah punya anak, untuk apalagi kalung ini kupakai, tidak ada gunanya". Seusai ia berkata dalam hati nuraninya
dengan spontanitas ketujuh anaknya itu mati.

Melihat kejadian yang tidak terduga itu, segera perempuan itu berangkat menghadap Syekh sambil menangis tersedu-sedudan bertobat mohon
ampunannya karena jauh sebelumnya sudah berprasangka buruk kepada Syekh. Menerima pengaduan dankeluhan itu, Syekh berkata
"Sekarang juga kamu cepat pulang, dan apa yang menjadi niat dan harapanmu itu akan diterima juga nanti".

Setibanya dirumah dengan penuh cemas ternyata anaknya yang sudah
mati, semuanya hidup kembali.

Label: ,

kisah Syaikh Abdul Qodir dan Wali yang ditolak Alooh SWT

Diriwayatkan dalam kitab Malfudhul Ghoyyatsiyyah pada zaman Syekh Abdul Qodir ada seorang wali yang dikeluarkan, dilepas oleh Alloh dari pangkatkewaliannya.

Umumnya masyarakat telah mengetahui tentang ditolaknya wali tersebut oleh Alloh, telah tercatat dari daftar waliyulloh. Namun ia berusaha dengan sekuat tenaga, dengan didukung oleh semangat juang tinggi, minta bantuan dan syafaat rekaan-rekannya.

Sebanyak tiga ratus enam puluh wali, merasakan rasa solidaritas mengajukan permohonan kepada Alloh agar ia dapat diangkat kembali dan diterima disisi-Nya.

Merasakan nasib malang yang diderita rekannya itu, seluruh wali yang tiga ratus enampuluh orang itu mereka bersama-sama bermunajat mengadukan halnya, berdo’a memohon kepada Alloh supaya rekannya wali yang dilepas itu diangkat kembali menjadi waliyulloh. Namun dari seluruh permohonan mereka itu, tidakada seorangpun do’anya yang diterima Alloh.

Maka untuk meyakinkan lagi para waliyyulloh itu masing-masing melihat ketentuan suratan yang tertulis di Lauhil Mahfudz, ternyata tampak dengan jelas tertulis bahwa wali rekannya itu sudah disatukan dengan kelompok orang-orang celaka.

Atas kesepakatan bersama dianjurkan supaya ia dengan segera menghadap Syekh Abdul Qodir untuk memohon syafaatnya. Lalu dengan merendahkan diri ia menghadap Syekh, beliau berkata: “Mari sini lebih dekat lagi, sesungguhnya Alloh telah mencopot pangkat kewalianmu. Mudah-mudahan aku bisa mengusahakan, dan menjadikan agar kamu dapat diterima kembali menjadi waliyulloh dengan ijin Alloh".

Kemudian Syekh berdo’a kepada Alloh, mohon supaya wali yang ditolak itu dapat diangkat kembali, diterima menjadi waliyulloh.

Di kala itu datang hatif dari Yang Maha Kuasa: “Wahai Abdul Qodir, ada tiga ratus enam puluh orang wali mereka berdo’a minta pertolongan untuk wali yang Ku tolak itu, dan tidak seorang pun do’a permohonannya yang Ku terima, sebab wali itu telah tertulis di Lohmahfud termasuk orang yang celaka”.

Syekh menjawab: ”Ya Alloh, apa halangannya, Engkau Maha Kuasa, siapa yang ditolak, Engkau dapat menolaknya, demikian pula siapa yang diterima Engkau bisa saja menerimanya, dan mengapa lidahku Engkau jadikan supaya aku bisa menyanggupi orang, bahwa ia dapat diterima bila Engkau telah memutuskan dan menjadikan orang itu ditolak”.

Kemudian dating hatip, Alloh bersabda: ”Wahai Abdul Qodir, sekarang silahkan siapa yang dianggap olehmu ditolak akan Ku tolak, dan Aku serahkan padamu dengan tugas untuk mengangkat dan memberhentikan dari pangkat kewalian”.

Lalu syekh berkata kepada wali mardud itu: ”Segera kamu membersihkan diri, mandi tobat, karena kedudukanmu sekarang sudah di angkat kembali menjadi waliyyulloh.

Label: , , ,