dibalik ujian hidup
pernah
melihat tanah liat yang mau di bentuk guci, genteng, bata, atau di
bentuk barang yg berharga? tanah itu akan di banting-banting, di keplek-keplekkan,
di injak-injak, di campur air, di unyel-unyel, di remet-remet,
seakan-akan orang yang mau menjadikan tanah liat itu jadi sesuatu dia
begitu bencinya pada tanah liat itu, tak cuma itu, setelah menjadi
bentuk tertentu misal mau di jadikan guci, masih di conteng sana sini
pakai pewarna, dan kemudian di oven, di bakar, jika tanah itu bisa
bicara dia akan mengatakan, kamu itu kok ya kejam benar, saya salah
apa? sampai sebegitu bencinya kamu padaku?
padahal apa yang di lakukan oleh yang membentuk guci itu, dia ingin tanah itu ada nilainya, bisa di jual, dan bisa di hargai oleh orang lain, menjadi guci yang antik, yang di pajang, di kagumi siapa saja yang melihatnya, bahkan orang lain rela menjaga dan melindungi guci itu dengan ikhlas, agar jangan sampai guci pecah.
begitulah kita di bentuk Allah, kalau ingin jadi barang berharga, di keplek-keplekno,
di injak-injak sampai derajat terendah, di remet-remet, di bakar,
sudah yang ridho saja sebagaimana ridhonya tanah di bentuk menjadi guci,
coba kalau tanah itu kabur dan menghindar dari pembentukan menjadi
guci? lari menghindar, maka pembentukan amalah akan lebih lama, dan
menjadi barang yang berguna dan di hargai banyak orang akan jauh dari
harapan.
padahal apa yang di lakukan oleh yang membentuk guci itu, dia ingin tanah itu ada nilainya, bisa di jual, dan bisa di hargai oleh orang lain, menjadi guci yang antik, yang di pajang, di kagumi siapa saja yang melihatnya, bahkan orang lain rela menjaga dan melindungi guci itu dengan ikhlas, agar jangan sampai guci pecah.
begitulah kita di bentuk Allah, kalau ingin jadi barang berharga, di keplek-keplekno
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda